Kolaborasi Lintas Generasi: SDN Jasem Gelar Pembuatan Eco Enzim Bareng Paguyuban

Cinta Lingkungan di Hari Kasih Sayang

Mojokerto — Sabtu, 14 Februari 2026, halaman terbuka SDN Jasem dipenuhi suasana hangat penuh kebersamaan. Alih-alih merayakan Hari Kasih Sayang dengan bunga atau cokelat, sekolah Adiwiyata Nasional ini memilih menghadirkan cinta yang lebih luas: cinta terhadap bumi. Ratusan siswa bersama ibu-ibu Paguyuban bergandengan tangan dalam kegiatan pembuatan Eco Enzim massal, sebuah langkah nyata untuk mengurangi sampah organik sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Mojokerto — On Saturday, February 14, 2026, the open yard of SDN Jasem was filled with warmth and togetherness. Instead of celebrating Valentine’s Day with flowers or chocolates, this National Adiwiyata School chose to express a broader love: love for the Earth. Hundreds of students and mothers from the Paguyuban joined hands in a mass Eco Enzyme making activity, a concrete step to reduce organic waste while nurturing environmental awareness from an early age.

 

Harmoni Lintas Generasi

Kegiatan ini bukan sekadar praktik pengolahan sampah. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, di mana anak-anak belajar langsung dari orang tua, dan orang tua hadir sebagai pendamping aktif.

  • Pemilahan bahan dilakukan bersama, memastikan kulit buah segar dan bersih.
  • Rasio formula 1:3:10 dijelaskan dengan telaten, agar siswa memahami keseimbangan antara air, gula merah/molase, dan sampah organik.
  • Proses pencampuran menjadi momen kebersamaan: tangan kecil dan tangan dewasa bergerak serempak, menciptakan harmoni sederhana namun penuh makna.

 

This activity was more than just waste processing practice. It became a space for intergenerational encounters, where children learned directly from their parents, and parents acted as active mentors.

  • Sorting materials together, ensuring fruit peels were fresh and clean.
  • The 1:3:10 formula ratio was carefully explained, helping students understand the balance between water, brown sugar/molasses, and organic waste.
  • Mixing process turned into a moment of togetherness: small hands and adult hands moved in harmony, creating simple yet meaningful collaboration.

 

Makna Strategis

Sebagai sekolah Adiwiyata Nasional, SDN Jasem menegaskan bahwa pendidikan lingkungan hidup tidak berhenti di bangku kelas. Pelibatan Paguyuban berfungsi sebagai:

  • Jembatan Edukasi: Pengetahuan siswa diperkuat dengan praktik di rumah.
  • Penguatan Karakter: Anak-anak belajar menghargai proses pengolahan limbah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
  • Dukungan RDEE Mojokerto: Kegiatan ini sejalan dengan gerakan regional dalam pengurangan sampah rumah tangga sejak dari sumbernya.

As a National Adiwiyata School, SDN Jasem emphasizes that environmental education does not stop in the classroom. Involving the Paguyuban serves as:

  • Educational Bridge: Students’ knowledge is reinforced through practice at home.
  • Character Building: Children learn to value the process of turning waste into something useful.
  • Support from RDEE Mojokerto: This activity aligns with regional efforts to reduce household waste at its source.

Suara Inspiratif

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Dining, pengajar sekaligus Plt. RDEE Mojokerto, menyampaikan:

“Hari Kasih Sayang kali ini kami rayakan dengan cara yang berbeda. Kami ingin anak-anak belajar bahwa cinta bukan hanya untuk sesama, tetapi juga untuk bumi. Dengan melibatkan orang tua, kami berharap nilai-nilai keberlanjutan bisa terus hidup di rumah, sehingga generasi mendatang tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan.”

On this occasion, Bunda Dining, teacher and Acting Head of RDEE Mojokerto, shared:

“This Valentine’s Day we celebrate in a different way. We want children to learn that love is not only for each other, but also for the Earth. By involving parents, we hope sustainability values will continue to live at home, so future generations grow with awareness to protect the environment.”

 

Kesan & Harapan

Suasana hangat terasa sepanjang kegiatan. Para siswa tampak antusias memotong bahan organik, sementara ibu-ibu Paguyuban dengan sabar membimbing teknis pembuatannya. Cairan Eco Enzim yang dibuat hari ini diprediksi akan siap panen pada bulan Mei 2026 mendatang, setelah melalui masa fermentasi selama 90 hari di bawah pengawasan Tim Lingkungan Hidup SDN Jasem.

The warm atmosphere lasted throughout the activity. Students enthusiastically cut organic materials, while mothers patiently guided the technical process. The Eco Enzyme produced today is expected to be ready for harvest in May 2026, after a 90-day fermentation period under the supervision of SDN Jasem’s Environmental Team.

 

Penutup

Kolaborasi ini membuktikan bahwa menjaga kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Melalui pendampingan wali murid, pembuatan Eco Enzim di SDN Jasem bukan sekadar tugas sekolah, melainkan sebuah gaya hidup yang diwariskan kepada generasi penerus. Dari Mojokerto, pesan itu bergema: cinta sejati adalah cinta yang menjaga bumi untuk masa depan.

This collaboration proves that preserving the environment is a shared responsibility. Through parental involvement, Eco Enzyme making at SDN Jasem is not just a school task, but a lifestyle passed down to future generations. From Mojokerto, the message resonates: true love is love that protects the Earth for the future.

Relawan Dunia Eco Enzyme (RDEE)

Tinggalkan komentar