Bandung Gelar Pelatihan Pendalaman dan Pemantapan Eco Enzyme SOP RDEE serta Tani Perkotaan
Bandung, 26 Juli 2026 — Yayasan Relawan Dunia Eco Enzyme (YRDEE) sukses menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Pendalaman dan Pemantapan Eco Enzyme SOP RDEE serta Tani Perkotaan” di Saung Angklung Udjo, Kota Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai latar belakang, menandai komitmen berkelanjutan YRDEE dalam pendidikan lingkungan dan gaya hidup berkelanjutan.
Membangun Kesadaran Ekologis dan Pemberdayaan Komunitas
Pelatihan dibuka dengan pengenalan YRDEE oleh Ketua Dewan Pembina, Bangda Heriyanto “Riyan” Anang Ibrahim. Ia menjelaskan perjalanan organisasi dari Relawan Eco Enzyme Indonesia (REEI) di bawah Yayasan Budaya Hijau Indonesia sejak 2016 hingga resmi berdiri sebagai YRDEE pada 3 Agustus 2023 di Jakarta.
“YRDEE bukan sekadar organisasi, tetapi gerakan global yang menghubungkan kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat melalui Eco Enzyme,” ujar Bangda Heriyanto.
Penegasan SOP Eco Enzyme RDEE
Materi utama menekankan pentingnya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam produksi Eco Enzyme. Cairan organik hasil fermentasi sampah dapur, gula, dan air ini berfungsi sebagai disinfektan alami, pupuk organik, serta solusi ramah lingkungan untuk rumah tangga.
Ambu Enih Halimah Gandasasmita, Ketua RDEE Wilayah Jawa Barat, memandu praktik pembuatan Eco Enzyme dengan formula standar: 1 bagian gula, 3 bagian bahan organik, 10 bagian air, difermentasi secara anaerob selama 90–100 hari.
“Dengan memahami SOP ini, setiap peserta dapat memproduksi Eco Enzyme berkualitas tinggi di rumah masing-masing sekaligus mengurangi sampah organik,” jelas Ambu Enih.
Filosofi dan Validasi Ilmiah Eco Enzyme
Ketua YRDEE, Bangda Danial Kaban, menekankan filosofi gerakan Eco Enzyme sebagai gerakan ekologis dan spiritual dengan Tiga Pilar Kesadaran Ekologis:
- Mulai dari diri sendiri
- Mulai dari hal kecil
- Mulai dari sekarang
“Gerakan Eco Enzyme telah berevolusi dari sekadar praktik rumah tangga menjadi disiplin sains terapan dan bioremediasi lingkungan yang terstandardisasi serta tervalidasi secara ilmiah,” ungkap Bangda Danial.
SOP Pemanenan, Pengemasan, dan Penyimpanan
Tahapan pasca-fermentasi dijelaskan secara rinci:
- Pemanenan: minimal setelah 90 hari
- Standar Mutu: pH < 3,4 dan TDS ≥ 4200 ppm
- Pengemasan: wadah HDPE food-grade steril dengan label
- Penyimpanan: ruangan kering dan sejuk dengan sistem FIFO
“Setiap tetes Eco Enzyme yang diproduksi di bawah RDEE memiliki standar mutu tinggi yang konsisten, aman, dan siap digunakan secara berkelanjutan,” tegas Bangda Danial.
Tani Perkotaan: Solusi Pangan Mandiri
Pelatihan juga memperkenalkan konsep Tani Perkotaan sebagai solusi ketahanan pangan keluarga di wilayah perkotaan. Peserta belajar teknik bercocok tanam di lahan terbatas dengan dukungan produk RDEE seperti pupuk organik cair, asam amino, kalsium larut, dan pestisida alami.
“Keterbatasan lahan bukan hambatan untuk bercocok tanam. Dengan kreativitas dan daur ulang berbasis Eco Enzyme, keluarga dapat menghasilkan pangan sehat bebas pestisida,” tutur Bangda Danial.
Bonus Materi: Soft Eco Enzyme untuk Kesehatan
Soft Eco Enzyme (SEE) merupakan varian khusus dari bahan organik “lunak” seperti apel, jeruk, pepaya, dan mangga, difermentasi minimal enam bulan.
Manfaat kesehatan:
- Detoksifikasi tubuh
- Disinfektan alami
- Hand body sanitizer
- Penyembuhan luka, termasuk luka diabetes
- Bahan sabun, sampo, dan tonik rambut
“Pembuatan Soft Eco Enzyme secara mandiri adalah solusi praktis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesehatan keluarga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tambah Bangda Danial.
Dukungan Pemerintah dan Peluang UMKM
Pelatihan turut dihadiri oleh Ibu Vina Octaviani, S.STP., M.Si., Kepala Desa Pasir Layung, serta Ibu Nani Mulyani, S.A.P., Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan.
“Produk turunan Eco Enzyme memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk UMKM,” ujar Bangda Danial Kaban.
Ibu Vina menyambut positif gagasan tersebut, membuka peluang kolaborasi antara RDEE dan pemerintah daerah dalam pemberdayaan wirausaha hijau berbasis komunitas.
Antusiasme Peserta dan Rencana Lanjutan
Peserta aktif berdiskusi dan meminta pelatihan lanjutan terkait:
- Eco Enzyme Vegetatif & Generatif
- Pupuk Organik Cair RDEE
- Bio Kompos RDEE
- Asam Amino & Kalsium Larut RDEE
- Soft Eco Enzyme untuk Kesehatan
YRDEE berkomitmen melanjutkan sesi-sesi ini guna memperkuat pengetahuan komunitas dan memastikan gerakan Eco Enzyme berkembang berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Penutup
Pelatihan ini menegaskan kembali komitmen YRDEE dalam menyebarkan pengetahuan dan praktik Eco Enzyme sebagai solusi pelestarian lingkungan, peningkatan kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Hidup Sehat di Bumi yang Sehat Bersama Eco Enzyme.”
Yayasan Relawan Dunia Eco Enzyme (YRDEE)
Bandung Hosts Deepening and Strengthening Eco Enzyme SOP RDEE and Urban Farming Training
Bandung, July 26, 2026 — The World Eco Enzyme Volunteer Foundation (YRDEE) successfully held a comprehensive training titled “Deepening and Strengthening Eco Enzyme SOP RDEE and Urban Farming” at Saung Angklung Udjo, Bandung City, West Java. The event gathered 31 enthusiastic participants from diverse backgrounds, marking another milestone in YRDEE’s mission to advance environmental education and sustainable living.
Building Ecological Awareness and Community Empowerment
The program opened with an introduction to YRDEE by Bangda Heriyanto “Riyan” Anang Ibrahim, Chairman of the Board of Trustees. He highlighted the foundation’s journey from Relawan Eco Enzyme Indonesia (REEI) under Yayasan Budaya Hijau Indonesia in 2016 to its official establishment as YRDEE on August 3, 2023, in Jakarta.
“YRDEE is not merely an organization—it is a global movement connecting health, environment, and community empowerment through Eco Enzyme,” said Bangda Heriyanto.
YRDEE continues to focus on organic fermentation training, research, agricultural development, and environmental preservation.
Reinforcing Eco Enzyme SOP RDEE
The training emphasized the Standard Operation Procedure (SOP) for Eco Enzyme production. Eco Enzyme is an organic liquid derived from fermenting kitchen waste, sugar, and water, serving as a natural disinfectant, organic fertilizer, and eco-friendly household solution.
Under the guidance of Ambu Enih Halimah Gandasasmita, Chairwoman of RDEE West Java Region, participants practiced making Eco Enzyme using the standard formula: 1 part sugar, 3 parts organic matter, 10 parts water, fermented anaerobically for 90–100 days.
“By mastering this SOP, participants can produce high-quality Eco Enzyme at home while reducing organic waste,” explained Ambu Enih.
Philosophy and Scientific Validation of Eco Enzyme
Bangda Danial Kaban, Chairman of YRDEE, elaborated on the philosophical foundation of Eco Enzyme as both an ecological and spiritual movement, built upon the Three Pillars of Ecological Awareness:
- Start with yourself
- Start with small actions
- Start now
“Eco Enzyme has evolved from a household craft into a discipline of applied science and community-based bioremediation, standardized and scientifically validated,” said Bangda Danial.
Harvesting, Packaging, and Storage SOP
Post-fermentation procedures were explained in detail:
- Harvesting: after a minimum of 90 days
- Quality Standard: pH < 3.4 and TDS ≥ 4200 ppm
- Packaging: sterilized HDPE food-grade containers with labels
- Storage: dry, cool rooms using FIFO (First In First Out) system
“Every drop of Eco Enzyme produced under RDEE meets the same high-quality standard—safe for sustainable use in environment, agriculture, and health,” emphasized Bangda Danial.
Urban Farming: RDEE’s Sustainable Food Solution
Urban Farming was introduced as a practical solution for family food security in cities. Participants learned techniques for small-space farming and how RDEE products—such as organic fertilizers, amino acids, soluble calcium, and natural pesticides—support sustainable cultivation.
“Limited land is not a barrier to farming. With creativity and Eco Enzyme-based recycling, families can grow healthy, pesticide-free food,” said Bangda Danial.
Bonus Content: Soft Eco Enzyme for Health
Soft Eco Enzyme (SEE) is a special variant made from “soft” organic materials such as apple, orange, papaya, and mango, fermented for at least six months.
Health Benefits include:
- Body detoxification
- Natural disinfectant
- Hand body sanitizer
- Wound healing, including diabetic wounds
- Ingredient for soap, shampoo, and hair tonic
“Producing Soft Eco Enzyme independently is a practical and sustainable way to improve family health and preserve the environment,” added Bangda Danial.
Government Support and MSME Opportunities
The training was attended by Ms. Vina Octaviani, S.STP., M.Si., Head of Pasir Layung Village, and Ms. Nani Mulyani, S.A.P., Head of Economic and Development Section.
“Eco Enzyme derivatives have great potential to become MSME products,” said Bangda Danial Kaban.
Ms. Vina welcomed the idea positively, opening opportunities for collaboration between RDEE and local government to empower community-based green entrepreneurship.
Participant Enthusiasm and Future Plans
Participants actively engaged in discussions and requested deeper training on:
- RDEE Eco Enzyme Vegetative & Generative
- RDEE Liquid Organic Fertilizer
- RDEE Bio Compost
- RDEE Amino Acids & Soluble Calcium
- Soft Eco Enzyme for Health
YRDEE plans to continue these sessions to strengthen community knowledge and ensure the Eco Enzyme movement grows sustainably across Indonesia.
Closing Statement
This training reaffirmed YRDEE’s commitment to spreading Eco Enzyme knowledge and practice as a solution for environmental preservation, health improvement, and community economic empowerment.
“Healthy Living on a Healthy Earth with Eco Enzyme.
Yayasan Relawan Dunia Eco Enzyme (YRDEE)





Tinggalkan komentar